Just A Simple Thing

Malam Terakhir di Ujung Tahun

Posted on: Desember 31, 2012

good bye

“Pada akhirnya kita tahu, kok. Mana yang realistis, dan mana yang cuma dongeng…”

Itulah sepenggal kalimat yang diucapkan Kugy kepada Keenan, dua tokoh utama film Perahu Kertas, saat mereka membicarakan tentang bagaimana mereka harus dihadapkan kepada kenyataan bahwa apa yang mereka impikan tidak semuanya bisa terwujud. Bagaimana sebuah mimpi seringkali harus menyerah dan kalah kepada realita. Bukan berarti mereka berhenti mengejar apa yang pernah mereka cita-citakan, tapi memang terkadang hidup tidak memberi kita pilihan.

Malam terakhir di tahun 2012, seperti tahun-tahun sebelumnya, memilih untuk tetap berdiam diri di rumah. Biasanya, ada sedikit perayaan bersama keluarga besar. Bakar ikan, jagung atau sekedar menyantap kacang rebus. Tapi tidak malam ini. Hanya berdiam diri di kamar. Ditemani notebook dan jaringan internet yang lumayan lancar malam ini.

Malam ini saya memilih untuk mengingat apa saja yang sudah saya lalui sepanjang tahun ini. Hampir semua biasa saja. Kalaupun ada yang istimewa, itupun hanya ada dua. Pertama, kepindahan keluarga saya ke Gunungpati, ke rumah kami sendiri. Ceritanya sudah saya tulis di sini. Dan yang kedua, soal cinta. Tepatnya, melepaskan cinta.

Empat tahun bukan waktu yang sebentar. Saya sendiri tidak pernah menyangka begitu lama hati ini bisa tertambat kepada seseorang. Tanpa pernah saya minta, dia mendekam begitu lama di sini. Empat tahun pula sibuk merangkai dongeng tentang kami berdua.

23 Oktober 2012, kisah itu berakhir. Entah harus sedih atau bahagia dengan akhir semacam ini. Di satu sisi saya sangat senang karena diberi kesempatan untuk bisa mencintai seseorang, tapi di sisi lain saya sedih karena kami tak akan pernah bisa bersama.

Malam terakhir di ujung tahun ini, saya tersadar mana yang realistis, dan mana yang hanya sekedar dongeng. Kisah dongeng Kugy dan Keenan mungkin berakhir menjadi kenyataan yang bahagia. Tapi, tidak demikian dengan dongeng saya. Ya, pada akhirnya saya tahu itu.

Malam terakhir di ujung tahun ini, saya hanya ingin mengucapkan terima kasih. Kepadanya yang telah menorehkan warna di lembar hidup saya. Kepadanya yang telah bersedia membaca beberapa dongeng yang saya tulis tentangnya. Dan, kepadanya yang telah sudi memberi saya semangat di tengah keterpurukan saya.

Malam terakhir di ujung tahun ini, saya kembali membulatkan tekad untuk melepaskannya. Seperti yang dia katakan malam itu, bukan demi siapa-siapa tapi demi kebaikan saya sendiri.

Malam terakhir di ujung tahun ini, saya kembali tunduk dan berdoa. Semoga Tuhan mengirim kembali, seseorang yang siap menemani saya untuk bermimpi. Bukan lagi mimpi saya sendiri. Tapi, mimpi kami.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Follow Me on Twitter

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 936 pengikut lainnya.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 936 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: