Just A Simple Thing

Lebih Baik Tak Punya TV

Posted on: Agustus 25, 2012

Jumat, 24 Agustus 2012. Shelo,
keponakanku yg baru kelas 1 SD, tengah duduk manis di depan TV di ruang tengah rumahku. Tanpa berkedip menatap idolanya, Cherrybelle, yang sedang diputar FTV nya di satu channel TV swasta.

Di rumah sebelah, ada Tika, adik sepupuku, yg jg tengah asik
menonton acara yg sama. Mungkin, di rumah-rumah lain pun sama.

Idola, begitu mereka menyebutnya. Kalau ditanya alasannya, tentu karena kecantikan atau ketampanannya, keren kata mereka. Bukan hanya Chibi, ada juga SM*SH, CJR, XOIX, 7icon, dan masih banyak lagi. Itu masih yg lokal, belum yg interlokal.. Eh, internasional.

Tak cukup menggempur lewat lagu-lagu saja, mereka kini hadir pula lewat sinetron atau FTV. Di sinilah masalahnya.. Lalu, apa masalahnya? Toh, banyak
juga yg nonton? Mungkin begitu
tanyamu..

Ya. Menurutku itu masalah. Begini pendapatku. Pertama, sinetron dan FTV itu jam
tayangnya pas banget sama jam
belajar anak. Banyak banget pasti orang tua yg ngeluh anaknya susah belajar gegara anak lebih mentingin sinetron. Ya, demi ngejar keuntungan para produser, sementara yg nonton? Ga dapet apa-apa, justru rugi yg ada.

Kedua, ceritanya ga mutu, minim (bahkan tanpa) pesan moral. Coba deh liat sinetron macam Putih Abu Abu, Hanya Kamu, ato apalah yg lain. Yg cuma ngliatin adegan anak
SMP SMA bau kencur yg tiap hari cuma ribet ngurusi pacar, ato musuhan sama anak-anak miskin di sekolah. Atau guru-guru yg semuanya pake banget. Kalo ngga galak banget ya cupu banget. Yang cuma dijadiin bahan bulan-bulanan sama muridnya. Kurang ajar.

Ketiga, tayangan-tayangan di TV kita saat ini tidak memberi contoh baik buat penontonnya. Di acara musik yg rating tinggi itu contohnya, remaja-
remaja pria menari lenggak lenggok dengan luwesnya. Tampak lupa bahwa kodratnya dia harus tampil gagah, tenang dan berwibawa. Demi nasi box dan bayaran 35 ribu rupiah
tiap episodenya. Di sinetron, anak SMA mengendarai mobil, pulang sekolah sibuk shoping, haduhhh,.. Saya cuma bisa prihatin, kata SBY.

Di tengah keprihatinan itu, tiba-tiba teringat serial Lupus dan Olga. Dua remaja gokil yg pernah mewarnai masa kecilku. Lupus, anak SMA yg selalu mengunyah permen karet ke manapun dia pergi. Dengan vespa butut mencari berita untuk dimuat di majalah HAI tempat dia magang. Atau Olga yg enerjik dengan sepatu rodanya. Ya, mereka berhasil meroket karena kekuatan cerita dan akting pemainnya. Bukan dengan bedak dan maskara tebal menghiasi mukanya. Bukan dengan cerita
kacangan yg tak pernah mengendap di hati penontonnya.

Menurutku, para produser sinetron saat ini pun bisa membuat tayangan yg baik. Hanya saja, mereka tak mau, bukan tak mampu menyajikan mutu.

Kalau industri televisi masih seperti ini terus, rasanya lebih baik tak punya TV.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Follow Me on Twitter

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 1.029 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: