Just A Simple Thing

‘Escape’, yang Terbaru dari Endah n Rhesa

Posted on: Agustus 14, 2013

Escape

Setelah meraih sukses dengan album Nowhere To Go (repackage, 2009) dan Look What We’ve Found (2010) kini Endah n Rhesa hadir dengan album Escape (2013). Sebagai penutup dari rangkaian trilogi album mereka, Escape hadir dengan tema yang berbeda dari dua album sebelumnya. Soal konsep album yang trilogi itu, saya sudah sejak lama tahu, sih. Akan tetapi, keterkaitan antara satu album dengan album yang lain, cerita perjalanan Shane Harden, tokoh rekaan mereka, baru saya ketahui saat mereka mengadakan interview di sebuah radio di kota Semarang akhir Juni lalu.

Shane Harden, yang ternyata kalau dianagramkan (bolak balik aja susunan hurufnya) akan menjadi Endah n Rhesa, adalah tokoh utama dalam album ini. Di album pertama dikisahkan Shane Harden terdampar di suatu pulau bernama “Silence Island”. Sendirian, dia berkeliling menjelajah pulau tersebut dan merekam kisah-kisahnya, hingga terciptalah lagu-lagu seperti Uncle Jim, Living With Pirates, Thousand Candles Lighted, dan Catch The Windblows.

Lelah menjelajah Silence Island sendirian, Shane dengan mesin waktunya pergi ke masa lalu. Makanya di album kedua, Endah n Rhesa lebih menonjolkan tema musik Afrika, mungkin supaya lebih dapet kesan primitif dan kunonya. Lirik-lirik lagu di album ini juga banyak mengambil tema alam, seperti Monkey Song, Kou Kou the Fisherman, The King, Tuimbe (Let’s Sing) dan yang paling saya suka Mirror Spell.

Ketika Shane kembali lagi ke masa depan, ternyata Silence Island berada di ambang kehancuran. Kemajuan teknologi yang tak diimbangi dengan penggunaan yang bijak adalah penyebabnya. Shane menyusun strategi untuk melarikan diri dari pulau itu. Oleh karena itu, album ketiga ini diberi judul Escape.

Itu tadi cerita singkat tentang tokoh Shane Harden dan perjalanannya. Kalau mau lebih jelas, harus punya albumnya, sih, jadi bisa liat artwork-nya mas Rhesa yang keren di bagian cover albumnya. Kenapa mesti susah-susah mikirin cerita fiksi buat album mereka? Karena bagi Endah n Rhesa, musik saja tidak cukup untuk bercerita, tapi juga artwork. Selain itu, penciptaan tokoh dan cerita ternyata mempermudah kerja mereka dalam menciptakan konsep tiap album. ( ngutip dari sini )

Oke, sekarang kita fokus ke bahasan awal, yaitu album Escape. Kalau di album sebelumnya banyak bunyi-bunyian khas Afrika, di album ini mereka bermain lebih nge-rock, progressive dan gloomy. Seperti covernya, tema album ini sangat outer space, lah pokoknya. Album ini dibuka dengan ‘Hypergalaxy Intro’. Sedikit, tapi ngena! Mengejutkan untuk sebuah album akustik. Selanjutnya ada ‘Silence Island’, yang mereka jadikan sebagai single pertama. Ceritanya tentang kemajuan teknologi yang akhirnya membawa kekacauan dan kehancuran akibat penggunaannya yang tak bertanggung jawab. Track ini adalah track yang paling berasa tema luar angkasanya selain ‘Spacybilly’. Video klipnya bisa dilihat di sini.

‘Just Tonight’, yang jadi favorit saya di album ini, liriknya ‘lagi-lagi’ berkisah tentang kepergian seorang kekasih. Semacam ucapan perpisahan sekaligus janji bahwa perpisahan ini hanyalah sementara.

“Freeze the moment save the memories, Store the pictures find the melodies, Cause you… you know I’ll be there. From the space I see your face, Through the cloud I write your name, Wait me in a promise land”

Jadi, sepertinya sudah tak zaman lagi nyanyi lagu ‘Leaving On A Jetplane’ buat backsound adegan perpisahan dengan orang yang disayang. Sekarang sudah ada ‘Just Tonight’-nya Endah n Rhesa

Setelah ‘When You Love Someone’ dan ‘Wish You Were Here’ tampaknya lagu ‘Alone in the Loneliness’ sengaja diciptakan sebagai lagu wajib untuk menggalau di album ini. Baca judul lagunya aja udah ngenes amat. Eh, liriknya lebih kejam lagi.

“I will stay and wait for you in silence, And I will let the time come true, Until you realize that someone’s watching over you, To hold you in a blanket of truth. But you don’t come, You leave me in a sadness of broken heart, And I am here… alone in the loneliness.”

Duhhh,…

‘Somewhere in Between’ dan ‘No Tears From My Eyes’ juga menarik untuk didengar. Genjrengan mbak Endah maut banget lah di dua lagu ini. ‘Sun Goes Down’ saya rasa sangat tepat sebagai penutup. Liriknya optimis. Mengajak kita untuk move on dan nggak melulu diam di tempat. Setuju banget lah,.

Sekian pandangan subjektif saya sebagai awam yang cuma bisa dengerin musik. Yang pasti, saya bangga karena mengenal musik Endah n Rhesa. Komitmen, kekompakan, kreativitas, dan kerja keras mereka dalam berkarya patut menjadi contoh bagi musisi-musisi Indonesia yang lain. Bahkan, Indonesia harusnya juga bangga karena memiliki Endah n Rhesa. Maju terus mba Endah dan mas Rhesa! Saya tunggu karya-karya berikutnya dari kalian.

Follow twitter Endah n Rhesa : @endahNrhesa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Follow Me on Twitter

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 1.029 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: