Just A Simple Thing

Truk Aja Punya Gandengan, Masa Kamu Enggak?

Posted on: Oktober 25, 2013

Di sebuah halte, seorang pria menanti kedatangan bus yang akan ditumpanginya, sendiri, hanya mendekap tas kerja hitamnya di bagian dada. Tak jauh dari tempatnya duduk, sepasang muda mudi saling memegang tangan dan beradegan mesra. Lalu datang seorang anak perempuan kecil menepuk pundaknya dan berceletuk, “Om, om,. Truk aja punya gandengan, masa om enggak?!” Begitu kalimat yang keluar dari mulut si gadis kecil sambil menunjuk ke arah truk gandeng yang melintas di hadapan mereka. Sang pria pun menangis keras, meratapi nasibnya.

truk gandeng

Itu tadi gambaran visual iklan sebuah produk minuman dalam botol yang akhir-akhir ini sering muncul di televisi. Ayo, ngaku,. Siapa di antara kalian, terutama jomblowan dan jomblowati, yang terusik alias tersinggung dengan celetukan anak kecil di iklan itu? Jujur, pertama kali liat iklan itu, saya pun membatin satu kata, “Sial”.

Secara kebetulan, salah seorang teman saya di linimasa Twitter, siang kemarin membuat satu kicauan yang isinya juga cukup menggelitik. Ini dia:

 Image

Dipikir-pikir, ada benernya juga, sih. Pernah nggak liat truk gandeng yang bisa melaju cepat? Nggak, kan? Itu karena badan truk belakangnya cuma jadi beban buat mesin truk di depan. Sama seperti beberapa di antara kita yang buru-buru cari pacar demi sebuah status “Punya Gandengan”. Faktanya? Nambahin ribet hidup. Mau pergi harus lapor pacar, mau makan harus saling ngingetin, boros pulsa, harus begadang tiap malem buat chatting sama pacar, sering makan hati tiap liat pacar deket sama temen lawan jenis, sering curiga tiap pacar lupa sms atau telepon atau telat bales BBM.

Nah! Apa itu yang dicari dari “gandengan”? Saya sih capek dengan tipikal hubungan yang seperti itu. Setuju dengan apa yang sudah ditulis oleh teman saya, saya lebih memilih untuk menjadi ferrari. Tak perlu gandengan, melaju cepat, gesit, dan spektakuler.

Beberapa di antara kalian mungkin akan membatin, “Ah, dasar jomblo ga laku aja, kebanyakan ngeles.” Hehee,. sila berpikir seperti itu. Tapi sungguh, sebuah ferrari tak butuh gandengan, yang dia butuhkan hanya sepasang pengemudi dan navigator yang ulung. Dua-duanya duduk bersisian, tak ada yang di depan, tak ada yang di belakang. Tak ada yang berambisi untuk menguasai. Sepasang manusia yang saling menaruh kepercayaan bahwa mereka mampu menguasai laju mobilnya hingga sampai ke tujuan dengan selamat bila mereka tetap bekerja sama, bersinergi dalam harmoni.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Follow Me on Twitter

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 1.029 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: